Jumat, 26 Juni 2020

covid19: kotak sanitizer

Dua hari di rumah ... Jadilah sebuah kotak ukuran 45cm×45cm×55cm

Print warning, dan edukasi bahayanya UV ke kulit dan mata...

Menggunakan UVC 8W untuk sainitizernya


Tas, belanjaan, jaket barang dari luar rumah agar disorot UV dulu sekitar 10 menit


Bagaimana mengukur dampaknya,.. misalnya apakah virusnya sudah mati semua ? Saya tidak tahu. Tetapi apakah karena kita tidak bisa mengukur terus kita tidak melakukan apa-apa ? he.he..

1 Okt 2020. Timer 10 menit off.  Dengan pemasangan timer ini, maka kita bisa tinggalkan barang-barang di kotak sanitizer karena otomatis akan off. Sebaliknya, juga tidak terlalu cepat mengambil barang-barang yang masih dalam proses penyinaran. Timer ini memiliki lampu dimmer untuk menandai bahwa UVC dalam kotak sedang bekerja.


Bersama adik, merakit kotak sanitizer di teras rumah.... wah teras jadi berantakan ya dik ?





Semoga bermanfaat.


Senin, 08 Juni 2020

Leadership : Strategic Management

Salah satu faktor utama terwujudnya smartcity adalah manusianya, SDM-nya. SDM ini mesti terorganisasi atau tepatnya tepimpin dengan baik. Ada leadership di sana.  Leaderhsip itu merupakan seni memimpin, sekaligus mengorganisasi manusia dan aktivitasnya. Banyak contoh pemimpin yang telah menyampaikan tentang kepemimpinan, yang mungkin bisa menjadi model, baik karena pengalaman maupun perenungannya. Yang pasti, sebagai leader yang memimpin perubahan, maka pengawalan proses perubahan dengan menunjukan upaya yang konsisten untuk menjadi panutan, dan mendorong berbagai pihak untuk berubah merupakan hal penting. Dalam lima jari leadership, yang pertama adalah bisa menjadi panutan.  


Lima Jari Leadership

Ini adalah model leadership yang menurut saya paling cocok, dan mudah diingat karena melekat di tubuh kita. Leadership ini diambilkan dari filosofi jari kita.  Jempol untuk mewakili sesuatu yang bagus dan patut dicontoh, jari telunjuk untuk menunjukan sesuatu, jari tengah karena paling tinggi seperti menara terkait komunikasi, jari manis untuk tempat cincin terkait dengan komitmen dan penghargaan dan jari kelingking untuk hal-hal yang mendasar, bottom line.

1️⃣ Jari Jempol – Teladan (Character First)

Jempol identik dengan tanda “bagus”.

Seorang pemimpin, sebelum memimpin orang lain, harus lebih dahulu memimpin dirinya sendiri. Leadership selalu dimulai dari karakter.

Integritas, disiplin, konsistensi, ketekunan, dan kematangan emosi adalah fondasi. Memang tidak mungkin selalu lebih pintar dari seluruh anggota tim dalam aspek teknis. Namun seorang leader harus lebih unggul dalam:

  • Mengelola diri

  • Mengelola konflik

  • Mengelola energi tim

  • Mengelola arah organisasi

Dalam konsep modern, ini sejalan dengan gagasan John C. Maxwell tentang “leadership is influence”. Pengaruh tidak lahir dari jabatan, tetapi dari keteladanan.

Tanpa jempol, genggaman menjadi lemah. Tanpa karakter, kepemimpinan menjadi rapuh.


2️⃣ Jari Telunjuk – Arah (Vision & Direction)

Telunjuk digunakan untuk menunjuk.

Pemimpin harus berani berkata:
“Kita menuju ke sana.”

Visi bukan sekadar slogan di dinding. Ia harus jelas, terukur, dan dapat dibayangkan. Orang tidak akan bergerak jika tidak tahu ke mana harus melangkah.

Visi menjawab:

  • Mau menjadi apa?

  • Dalam waktu berapa lama?

  • Dengan standar seperti apa?

Dalam kerangka manajemen modern, ini sejalan dengan konsep begin with the end in mind dari Stephen R. Covey. Tanpa arah, energi tim akan habis untuk hal-hal yang tidak prioritas.

Telunjuk memberi orientasi. Tanpa arah, tim hanya sibuk—bukan produktif.


3️⃣ Jari Tengah – Komunikasi (Alignment & Engagement)

Jari tengah paling tinggi. Ia seperti menara komunikasi.

Visi yang tidak dikomunikasikan dengan baik hanya menjadi mimpi pribadi. Di sinilah peran komunikasi strategis.

Gunakan prinsip AIDA:

  • Attention – tarik perhatian tim

  • Interest – bangun minat

  • Desire – tumbuhkan rasa memiliki

  • Action – dorong aksi nyata

Namun komunikasi bukan hanya berbicara. Ia juga tentang mendengar.

Pemimpin yang baik:

  • Mendengar sebelum menyimpulkan

  • Mengklarifikasi sebelum menilai

  • Mengajak berdialog sebelum memutuskan

Dalam praktik organisasi, kegagalan sering bukan karena strategi salah, tetapi karena misalignment komunikasi.

Tanpa jari tengah, tinggi tangan berkurang. Tanpa komunikasi, visi tidak pernah turun menjadi eksekusi.


4️⃣ Jari Manis – Komitmen & Apresiasi (Commitment & Recognition)

Di jari manis biasanya tersemat cincin. Ia melambangkan komitmen.

Seorang leader harus:

  • Konsisten dengan janji

  • Teguh pada nilai

  • Tidak mudah berubah arah karena tekanan sesaat

Selain komitmen, jari manis juga tentang penghargaan. Tim yang dihargai akan tumbuh.

Penghargaan tidak selalu berupa uang. Bisa berupa:

  • Pengakuan terbuka

  • Kesempatan berkembang

  • Kepercayaan

  • Umpan balik positif

Dalam banyak studi engagement, rasa dihargai adalah salah satu faktor utama retensi dan produktivitas.

Tanpa komitmen, kepercayaan runtuh. Tanpa apresiasi, semangat menurun.


5️⃣ Jari Kelingking – Bottom Line (Sustainability & Result)

Kelingking kecil, tetapi penting untuk kekuatan genggaman.

Leadership tidak berhenti pada inspirasi. Ia harus menghasilkan kinerja nyata. Dalam organisasi bisnis, itu berarti:

  • Profit

  • Cash flow sehat

  • Pertumbuhan berkelanjutan

  • Value creation

Pemimpin harus memahami:

  • Dari mana revenue datang

  • Struktur biaya

  • Leverage yang bisa ditingkatkan

  • Risiko yang harus dikendalikan

Tanpa hasil, visi hanyalah retorika. Tanpa keberlanjutan, organisasi tidak akan bertahan.

Kelingking mengingatkan kita bahwa idealisme harus bertemu realitas.


Kesimpulan: Kepemimpinan yang Utuh

Coba genggam tangan Bapak.

Tidak ada satu jari pun yang dominan sendirian. Semua bekerja bersama.

  • Karakter (Jempol)

  • Arah (Telunjuk)

  • Komunikasi (Jari Tengah)

  • Komitmen & Apresiasi (Jari Manis)

  • Hasil & Keberlanjutan (Kelingking)

Jika salah satu lemah, genggaman melemah.

Model Lima Jari Leadership ini sederhana. Tetapi justru dalam kesederhanaan itulah kekuatannya. Ia mudah diingat, mudah diajarkan, dan mudah direfleksikan.

Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan soal teori besar. Ia soal bagaimana kita menggunakan “tangan” kita setiap hari—untuk membimbing, menunjuk arah, merangkul, menguatkan, dan menghasilkan.




Strategic Management
Sebagai leader tentu tidak lepas dari strategic management. Nah, mengenai strategic management ini kami pernah belajar khusus dan merumuskannya dengan model sebagai berikut :


VCA : Value Chain Analysis
TIROCA : Tangible, Intangible Resources & Organizational Capability Analysis
M : Marketing, F : Finance, O : Operation, HR : Human Resources
P : Political/ Regulations, E : Economics, S : Socio & Cultural, T : Technology
C1 : Customer, C2 : Competitor, C3 : Collaborators, C4 : Creditors
IFAS : Internal Factors Analysis Summary
EFAS : External Factors Analysis Summary
SFAS : Strategic Factors Analysis Summary
BCG Matrix : Boston Consulting Group Matrix
GE Matrix : General Electric Matrix
TOWS Matrix : Threat, Opportunity, Weakness, Strength Matrix

There are several steps to do strategic managerial :
SSA : Strategic Situation Analysis
SF : Strategic Formulation
SI : Strategic Implementation
SEC : Strategic Evaluations & Controls


Namun dalam praktisnya, gambar ini lebih menjelaskan:


di sesi yang akan datang saya akan ceritakan lebih lanjut konsepsi ini. Dengan menyampaikan konsepsi ini, maka akan banyak anggota dalam organisasi yang akan mengembangkan visi strategis yang dapat mengarahkan perusahaan ke masa depan melalui tahapan di atas.




Jack Welch
Berikut model kepemimpinan Jack Welch,  John Francis Welch, Jr, adalah CEO General Electric dari 1981 - 2001, dan mampu meningkatkan nilai perusahaannya sampai 4000%. Dia menuliskan tentnaang kepemimpinannya bersama istrinya, Suzy Welch, dan mendirikan Institut Management Jack Welch. Menurut Jack Welch, pemimpin harus memiliki 4E+1P : Energy, Energize, Edge, Execute + Passion.
Aksioma kepemimpinan Jack Welch ada beberapa, di antaranya :
1. Perilaku perusahaan tanpa batas, ide harus dicari dari berbagai bagian dan semua lapisan perusahaan melewati batas-batas organisasi.
2. Karyawan dan manajer yang berprestasi harus dihargai dan yang tidak efisien harus diakhiri.
3. Informalitas di kantor akan membawa kenyamanan dalam bekerja dan suasana yang cair untuk bersama meraih prestasi
4. Mungkin meyakitkan bagi karyawan yang tidak tepat, tetapi perusahaan lebih penting untuk lebih maju lagi.
5. Birokrasi yang bisa dipotong agar disederhanakan.
6. Bertindak berdasarkan apa yang ada dan melihat faktanya. Tidak ada asumsi, yang ada hanyalah opsi.
7. Menyambut perubahan dengan baik
8. Tidak takut membeli dan menjual perusahaan.
9. Bawahan harus diberdayakan dan diberikan kewenangan, mereka bukan pesaing.
10. Memprioritaskan nilai daripada angka
11. Mendorong anggota team untuk aktif dan memperhatikan rencana jangka panjang

Tom Peters
Gaya Tom Peters dalam memimpin seperti pekerjaan direktur teater atau manajer tim olahraga mengumpulkan bakat terbaik yang tersedia yang dapat Anda temukan dan mengembangkan konteks di sekitar mereka di mana orang-orang ini dapat memberikan karya terbaik dalam hidup mereka. Kepemimpinan adalah seni membuat orang lain ingin melakukan apa yang Anda yakini harus dilakukan. Tanda seorang pemimpin yang efektif adalah dampak yang dia miliki pada sikap dan kinerja orang lain dan dalam warisan yang mereka tinggalkan ketika mereka sudah pindah. Menurut Tom Peters kepemimpinan meliputi 3 hal : visionery, talent development, dan profit mechanic. Pemimpin visioner memberikan inspirasi kepada organisasinya. Pemimpin memperhatikan talent development untuk membina orang-orang di organisasinya. Pemimpin juga memastikan profit mechanisme dapat memberikan pembiayaan kepada organisasnya. Tom Peters telah melihat bahwa secara konsisten orang lain merespons yang terbaik bagi para pemimpin yang:
1. Model the Way: dapat dipercaya dan memberikan contoh pribadi yang baik
2. Inspire a Shared Vision: lihat ke depan, lihat ke depan, dan sampaikan antusiasme untuk masa depan
3. Tantang Proses: tantang dan ubah segalanya menjadi lebih baik
4. Aktifkan Orang Lain untuk Bertindak: sediakan ruang lingkup dan kepercayaan diri kepada orang lain untuk mengambil tindakan
5. Mendorong Hati: mengakui kontribusi orang lain

One Minute Manager
Ini adalah kepemimpinan yang telah membuat hasil besar : satu menit menegaskan tujuan, satu menit memberikan pujian, dan satu menit memberikan teguran. The One Minute Manager (Ken Blanchard, Pat, dan Drea Zigarmi) merupakan penggagas model kepemimpinan yang dikenal sebagai kepemimpinan situasional, mempunyai model yang praktis, mudah dipahami, dan diterapkan untuk memimpin dan mengembangkan sumber daya manusia dalam suatu organisasi. Untuk menjadi pemimpin yang situasional, seorang pemimpin harus belajar menetapkan tujuan yang jelas, belajar bagaimana mendiagnosis tingkat perkembangan orang-orang yang bekerja sama dalam setiap target mereka, dan seorang pemimpin harus belajar menggunakan berbagai gaya kepemimpinan untuk memberikan apa yang anak buah butuhkan dari seorang pemimpin. Dari uraian di atas, ada 3 keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang manajer,yaitu penentuan target (goal setting), diagnosis, dan penyesuaian (matching).

Penentuan target adalah bagian penting dari perencanaan kinerja dan menjadi pelatihan sehari-hari, dan evalusi kinerja menjadi tolak ukur keberhasilan atau tidaknya dalam suatu target kerja. Dalam penentuan target, One minute manager memberikan rumusan SMART, yaitu :
Spesific,
Apa sebenarnya target atau tugas tersebut?
Kapan target atau tugas tersebut perlu diselesaikan?

Motivating,
Apakah target atau tugas tersebut berarti bagi individual?
Apakah pengerjaan target ini membangun kompetensi dan komitmen
Apakah pengerjaan target ini menambah atau menguras energi?

Attainable,
Apakah target tersebut realistis, masuk akal, dan dapat diraih?
Apakah target tersebut berada dalam kontrol individual?

Relevant,
Apakah target atau tugas tersebut merupakan pekerjaan yang berarti bagi perusahaan?
Apakah target atau tugas tersebut sejalan dengan target perusahaan dan tim kerja?
Apakah target atau tugas tersebut merupakan prioritas utama dalam hubungannya dengan target lain?

Trackable,
Seperti apakah pekerjaan yang baik itu, dalam setiap tahap perkembangan?
Bagaimana kemajuan dan hasil akan diukur?
Target-target yang smart dapat memotivasi dan membuat pemimpin dengan orang-orang yang dipimpinnya berada dalam jalur yang sama.

Keterampilan selanjutnya yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kemampuan mendiagnosa. Setidaknya untuk melakukan diagnosa ada dua faktor yang dapat menentukan tingkat perkembangan seseorang, yaitu kompetensi dan komitmen. Komitmen adalah suatu fungsi yang menunjukkan pengetahuan dan keterampilan, yang dapat diraih melalui pembelajaran dan/atau pengalaman. Kompetensi berbeda dengan kemampuan. Orang sering kali menggunakan kata kemampuan dengan maksud potensial. Mereka berbicara tentang kemampuan alami untuk mendeskripsikan mengapa sebagian orang sepertinya bisa mempelajari keterampilan-keterampilan tertentu dengan begitu mudah. Kompetensi, disisi lain, dapat dikembangkan dengan arahan dan dukungan. Kompetensi bukan anda dapatkan dari lahir, kompetensi adalah sesuatu hal yang dipelajari.

Komitmen adalah kombinasi antara rasa percaya diri dan motivasi. Kepercayaan diri adalah tolak ukur keyakinan seseorang terhadap diri sendiri-perasaan mampu mengerjakan suatu tugas dengan baik tanpa banyak bimbingan, sementara motivasi adalah ketertarikan dan antusiasme seseorang untuk mengerjakan pekerjaan yang baik. Ada berbagai kombinasi dari kompetensi dan komitmen yang dapat digambarkan dengan grafik berikut :

D1 = Pemula antusias
D2 = Pembelajar Kecewa
D3 = Pekerja Cakap
D4 = Peraih Prestasi

Keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin selanjutnya adalah matching. Penyesuaian atau matching adalah menggunakan berbagai gaya kepemimpinan dengan nyaman untuk memberikan kepada individual apa yang mereka perlukan, saat mereka memerlukannya.

Ada empat gaya kepemimpinan :
Gaya 1 – Memerintah                                   
Perilaku Direktif Tinggi dan Perilaku Suportif Rendah
Pemimpin memberikan arahan spesifik tentang target, menunjukkan dan mengatakan bagaimana, dan memonitor dengan ketat kinerja individu untuk sering memberikan masukan akan hasil yang diraih.

Gaya 2 – Melatih
Perilaku Direktif Tinggi dan Perilaku Suportif Tinggi
Pemimpin tetap mengarahkan pencapaian target atau tugas namun juga menjelaskan kenapa, memberikan arahan dan saran, dam mulai mendorong keterlibatan dalam pengambilan keputusan.

Gaya 3 – Mendukung
Perilaku Direktif Rendah dan Perilaku Suportif Tinggi
Pemimpin dan individu membuat keputusan bersama. Peran pemimpin adalah memfasilitasi, mendengarkan, menyimpulkan, mendorong, dan mendukung.

Gaya 4 – Mendelegasi
Perilaku Direktif Rendah dan Perilaku Suportif Rendah
Individu membuat sebagian besar keputusan tantang apa, bagaimana, dan kapan. Para pemimpin adalah menilai kontribusi individu dan mendukung perkembangan individu tersebut.

Dari masing-masing gaya kepemimpinan (S) dan karakteristik individu (D), mempunyai hubungannya sendiri-sendiri, dan akan berubah bergantung dengan situasional individu. Seperti gaya “Memerintah /directing (Gaya 1) adalah untuk pemula antusias yang kurang kompetensi namun antusias dan berkomitmen (Dl). Mereka memerlukan arahan dan ma­sukan yang sering untuk memulai dan mengembangkan kompetensi mereka.

“Melatih/coaching (Gaya 2) adalah untuk pembelajar yang kecewa yang memiliki sebagian kompetensi namun kurang berkomitmen (D2). Mereka masih memerlukan arahan dan masukan karena mereka masih relatif be­lum berpengalaman. Mereka juga butuh dukungan dan pengakuan untuk membangun kepercayaan diri dan mo­tivasi, serta keterlibatan dalam pengambilan keputusan untuk mengembalikan komitmen mereka.

“Mendukung/supporting (Gaya 3) adalah untuk pekerja yang cakap namun waspada yang memiliki kompetensi namun kurang percaya diri atau motivasi (D3). Mereka tidak memerlukan banyak arahan karena keterampilan mereka sudah baik, namun masih memerlukan dukungan untuk mendorong kepercayaan diri dan motivasi mereka.

“Mendelegasi/delegating (Gaya 4) adalah untuk peraih prestasi yang percaya diri yang memiliki baik kompetensi maupun komitmen (D4). Mereka mampu dan bersedia mengerjakan suatu proyek sendiri tanpa banyak arahan atau dukungan.”