Tampilkan postingan dengan label CustomerFocus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CustomerFocus. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 November 2025

Garabak sudah ON

Salah satu perjuangan untuk menghidupkan sinyal internet di Garabak, Solok, Sumatera Barat... sejak awal september, menarik kabel fo 20km.. wow.. perjuangan berat bagi rekan-rekan Sumatera Barat.

Bertahun-tahun wilayah ini hidup dalam keterbatasan konektivitas. Untuk sekadar mengirim pesan atau mengakses informasi, warga harus mencari titik tertentu—naik ke tempat tinggi, menunggu waktu yang tepat, atau mengandalkan keberuntungan. Kini, setelah BTS Telkomsel resmi beroperasi, pola hidup itu perlahan berubah.




Jembatan harus dibangun agar kendaraan roda 4 bisa lewat...

Jika tidak bisa diangkut pakai kendaraan, ya diangkat bersama-sama.

Alhamdulillah 7 Nov sudah ON,

Rasa lelah tim hilang, ketika guru dan murid SDN02 Garabak senang menunggu sinyal internet 4G ON.

Sinyal yang hadir bukan sekadar soal komunikasi. Ia membuka akses belajar bagi anak-anak sekolah, memudahkan guru mencari bahan ajar, mempercepat koordinasi layanan publik, dan memberi peluang baru bagi aktivitas ekonomi lokal. Dunia yang sebelumnya terasa jauh, kini menjadi lebih dekat.

Kehadiran jaringan ini adalah hasil kolaborasi banyak pihak—pemerintah daerah, wakil rakyat, dan operator—yang membuktikan bahwa pembangunan infrastruktur digital di daerah terpencil bukan hal mustahil, asalkan ada kemauan dan konsistensi.

Garabak hari ini mungkin masih sama secara geografis. Namun secara sosial dan digital, ia sudah melangkah maju. Karena bagi masyarakat di sini, sinyal yang ON adalah tanda bahwa mereka akhirnya terhubung, diperhitungkan, dan punya harapan yang lebih luas ke depan. 

https://www.rakyatterkini.com/2025/11/bts-telkomsel-resmi-hadir-di-garabak-data-warga-bisa-nikmati-sinyal.html?utm_source=chatgpt.com

Sabtu, 26 April 2025

Bangkok semangat pagii....

Melihat Candi Wat Arun malam hari 

Mungkin Bangkok malam itu terasa sama saja bagi banyak orang, tetapi bagi saya sangat menarik, karena baru pertama kali melihatnya. Cahaya lampu memantul di Sungai Chao Phraya, dan Candi Wat Arun berdiri anggun—tenang, rapi, seolah kota ini tahu bagaimana menempatkan keindahan di tengah kepadatan. Yuk kita lihat Bangkok yang sedang berbenah. 

Di balik wajah kota yang memesona itu, ada hal menarik : bagaimana Bangkok mengelola infrastruktur dasarnya, termasuk listrik dan telekomunikasi. Di kota ini, penggunaan tiang bersama (shared poles) antara listrik dan telekomunikasi adalah praktik yang lazim.

Bangkok berbenah....



Pengaturannya tidak berjalan tanpa aturan. Pemasangan tiang bersama berada di bawah regulasi Provincial Electricity Authority (PEA) dan Bangkok Metropolitan Administration (BMA). Standar teknisnya jelas, terutama terkait keselamatan—mulai dari jarak aman antara kabel listrik dan telekomunikasi hingga mitigasi risiko interferensi dan sengatan listrik.

Tujuannya sederhana tapi strategis. Menghemat ruang di kota yang jalan-jalannya sering sempit, sekaligus menekan biaya infrastruktur melalui berbagi aset. Perusahaan telekomunikasi seperti True, AIS, atau TOT tidak harus membangun tiang sendiri; mereka berbagi dengan otoritas listrik setempat. Efisien, setidaknya di atas kertas.

Namun, praktik ini bukan tanpa tantangan. Di beberapa kawasan, tiang-tiang tampak penuh sesak oleh kabel yang bertumpuk—fenomena yang kerap disebut spaghetti wiring. Kepadatan ini bukan hanya persoalan visual, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan teknis dan keselamatan. Di sinilah koordinasi antarpengelola menjadi krusial, terutama saat pemeliharaan atau peningkatan jaringan.

Pemerintah Bangkok menyadari persoalan itu. Beberapa tahun terakhir, kota ini menjalankan proyek “Underground Cable”, memindahkan kabel listrik dan telekomunikasi ke bawah tanah, terutama di jalan-jalan utama dan kawasan bisnis. Belum merata ke seluruh kota, memang. Tapi arah kebijakannya jelas: kota yang lebih rapi, lebih aman, dan lebih manusiawi.

Menariknya, praktik tiang bersama masih mudah ditemui di jalan-jalan kecil (soi) di kawasan seperti Sukhumvit, Silom, atau Chatuchak. Sementara di kawasan yang lebih modern—Sathorn atau Ratchadaphisek—kabel-kabel sudah banyak yang “menghilang” ke bawah tanah. Ada diferensiasi kebijakan berbasis fungsi kawasan, bukan pendekatan seragam.

Dari sisi teknis, Bangkok relatif konsisten menggunakan tiang beton bertulang atau pratekan, mengacu pada Thailand Industrial Standards (TIS) serta spesifikasi internal PEA dan BMA. Tiang gabungan umumnya setinggi 9–12 meter, mampu menahan beban hingga 1.000 kg, dengan pengaturan kabel yang tegas: listrik di bagian atas, telekomunikasi di bawahnya. Umur pakainya panjang—30 hingga 50 tahun—dan minim perawatan, cocok untuk iklim tropis seperti Bangkok.

Semua ini membuat saya berpikir: penataan kota bukan hanya soal estetika, tetapi soal rangkaian keputusan-keputusan yang konsisten, dari standar teknis, koordinasi lembaga, hingga keberanian menata ulang yang sudah terlanjur semrawut.

Bangkok memberi satu pelajaran penting—bahwa berbenah itu bukan tentang sempurna atau tidak, melainkan tentang arah yang jelas dan keberanian memulai.


PEA (Provincial Electricity Authority) [www.pea.co.th](https://www.pea.co.th)  
Metropolitan Electricity Authority (MEA) [www.mea.or.th](https://www.mea.or.th)  

Senin, 11 November 2024

Parepare ... Semangat pagiii

 


Parepare adalah titik awal sebuah kisah besar. Di kota inilah cinta Ainun dan Habibie bersemi—sebuah kisah personal yang kelak menjelma menjadi kisah nasional, bahkan internasional. Dari cinta yang sederhana itu, lahir ketekunan, kesetiaan, dan keberanian bermimpi jauh melampaui batas geografi. Seorang putra Indonesia tumbuh, belajar, dan akhirnya dikenal dunia—tanpa pernah benar-benar meninggalkan akarnya. Tidak ada kemewahan berlebihan, tetapi ada martabat dan rasa percaya diri—bahwa kota kecil pun bisa melahirkan cerita besar.

 

Parepare mengajarkan bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari beton dan baja. Ia bisa berangkat dari nilai, dari keteladanan, dari cerita yang diwariskan lintas generasi. Kisah Ainun–Habibie bukan sekadar romantika masa lalu; ia adalah modal sosial yang membentuk identitas kota ini—tentang kecintaan pada ilmu, kesetiaan pada proses, dan keberanian untuk tampil di panggung dunia tanpa kehilangan jati diri.

Sebagai kota tumbuh, Parepare sedang menapaki jalannya sendiri. Infrastruktur bergerak, ekonomi lokal berdenyut, dan ruang kota ditata perlahan. Namun yang paling penting, semangat warganya tetap terjaga. Seperti pagi hari yang tidak pernah absen, Parepare tumbuh dengan kesabaran dan konsistensi.








Sabtu, 17 Agustus 2024

Membangun ICT untuk 17 Agustus 2024 di Ibu Kota Nusantara

Tentu saja IKN membutuhkan ICT, dan ini menjadi tantangan bagi Telkom Group. Di sisi akses, pembangunannya sudah mulai dilakukan beberapa bulan lalu. Mulai dari pembahasan bersama OIKN (11 Mei 2022) sampai sudah mulai terbentuk pembangunannya (23 Sep 2023)  dan memastikan keseuaian rencana dengan pembangunannya (28 Juni 2024) dan koordinasi yang tiada henti.... dan di milestone 17 Agustus 2024 ini Alhamdulillah berjalan dengan baik dan lancar. Sea Today sebagai pengguna ICT Telkom merasa puas, pengelola hotel merasa puas, OIKN merasa puas dan SetPres penanggung jawab upacara juga merasa puas. 



Ini adalah tempat manajemen core FO di Sentral Telekomunikasi TELKOM IKN. Ini dijaga oleh teknisi dan sistem security serta sistem monitoring.


Jalur HDPE yang berisi kabel optik keluar dari Sentral Telekomunikasi Telkom masih melalui jalur temporer, karena belum semua jalur MUT selesai. Tentu jalur ini harus dijaga oleh teknisi maupun oleh perugas pengamanan acara.







Titik simpul yang menjadi tumpuan layanan tentu harus dijaga dengan baik pula.


Pemeriksaan jalur FO ke layanan.


Koneksi layanan jadi titik penting 





Dual homing.... Agar layanan tidak gangguan karena fisik terganggu 










Layanan TelkomGroup yang disiapkan terdiri dari astinet, metroethernet, SIPTrunk, Indibiz, Wifi, Core-to-Core dan CCTV, serta tentu saja yang dipakai oleh semua orang sinyal mobile Telkomsel. Jenis layanan yang disiapkan ini sesuai dengan kebutuhan acara Peringatan 17 Agustus di IKN dan di DKI.































Personil menjadi hal penting, karena pada saat jam acara tidak ada mobilitas personil. Pemilihan teknisi dan penempatan siaga menjadi kuncinya. Ada 3 ring dalam acara 17-an nantinya, ring 1 untuk istana dan sekitar lapangan upacara, ring 2 beranda nusantara dan ring 3 di luarnya. Setiap ring dipilih jadi area kecil-kecil yang menjadi tanggung jawab personil. Agar minimal dampak jika ada gangguan fiber optik, satu titik layanan dicatu dengan cara dual route dan dual homing.  Bahkan ditambah satelit agar tetap aman. Hal yang paling krusial adalah titik siaran televisi. Tidak boleh ada gangguan, delay ataupun jitter. Alhamdulillah acara berjalan lancar tanpa ada gangguan. 


Berdoa sebelum memulai tugas mengawal ICT peringatan 17 Agustus 2024 di IKN.