Senang membacanya (di sini) ketika dinyatakan bahwa ekonomi digital Indonesia tumbuh 14%. Bahwa ini masih kurang besar, iya mungkin. Tetapi angka ekonomi digital Indonesia yang hampir mencapai US$100 miliar dalam Gross Merchandise Value (GMV) pada tahun 2025, adalah sebagai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.
Kita kutip di sini ya : Kenaikan pesat ini didorong oleh pertumbuhan video commerce yang mencatat lonjakan volume transaksi sebesar 90% (YoY) hingga mencapai 2,6 miliar transaksi, serta peningkatan 75% (YoY) dalam jumlah penjual dan toko daring, total mencapai 800 ribu.
“Konvergensi antara konten dan perdagangan kini tak terelakkan: Indonesia menjadi pasar video commerce terbesar dan tumbuh paling cepat di Asia Tenggara. Keberhasilan ini didorong oleh kuatnya adopsi gaya hidup digital oleh konsumen yang juga berdampak langsung pada sektor-sektor lain. Kami melihat pertumbuhan dua digit yang berkelanjutan di berbagai sektor digital utama, membuktikan bahwa momentum Indonesia merata di seluruh ekosistem,” ujar Veronica Utami, Country Director, Google Indonesia.
Indonesia juga menjadi kunci masa depan Asia Tenggara yang digerakkan kecerdasan buatan (AI), Indonesia tampil sebagai pemimpin regional dalam adopsi pengguna dan momentum komersial. Kepemimpinan ini ditopang oleh kesiapan pengguna yang luar biasa, di mana 80% pengguna di Indonesia berinteraksi dengan alat berbasis AI setiap hari, tertinggi kedua di kawasan. Antusiasme ini juga tercermin di pasar dengan pertumbuhan pendapatan aplikasi berbasis AI yang melonjak hingga 127% antara paruh pertama 2024 dan paruh pertama 2025, tertinggi di Asia Tenggara.
Lebih dari sekadar penggunaan harian, semangat untuk bertransformasi dengan AI juga terlihat di dunia kerja: 79% pengguna aktif mempelajari dan meningkatkan keterampilan terkait AI. Motivasi utama mereka adalah untuk meningkatkan efisiensi, menghemat waktu riset dan perbandingan (51%), mendapatkan rekomendasi yang lebih personal (35%), serta keamanan yang lebih baik (32%).
Namun, di tengah tingginya permintaan ini, investasi modal yang masuk ke sektor AI Indonesia masih belum sebanding dengan potensinya. Jumlah startup AI di Indonesia (45+) dan porsi pendanaan (4% dari total ASEAN-10) masih jauh di bawah pusat regional seperti Singapura (495+) dan Malaysia (60+).
Mari kita masuk ke angka ekonomi digital lagi. Ekonomi digital terutama berangkat dari beberapa sektor berikut:
Pertama, e-commerce. Ini penyumbang terbesar. Tahun 2025, e-commerce Indonesia diproyeksikan sekitar US$71 miliar, didorong marketplace, social commerce, video commerce, dan pertumbuhan jumlah toko/penjual daring.
Kedua, online media. Ini mencakup iklan digital, gim, video-on-demand, musik digital, dan konten berbayar. Nilainya diproyeksikan sekitar US$9 miliar pada 2025.
Ketiga, transportasi online dan pesan-antar makanan. Termasuk ride-hailing, delivery makanan, logistik ringan berbasis aplikasi, dan layanan berlangganan platform. Nilainya diproyeksikan sekitar US$10 miliar pada 2025.
Keempat, online travel. Ini mencakup pemesanan tiket, hotel, perjalanan wisata, dan aktivitas terkait pariwisata secara digital. Nilainya diproyeksikan sekitar US$9 miliar pada 2025.
Jadi kalau dijumlah kasar:
e-commerce US$71 miliar + online media US$9 miliar + transport/food US$10 miliar + online travel US$9 miliar = sekitar US$99 miliar. Inilah yang membuat angka “mendekati US$100 miliar” muncul.
Selain itu ada jasa keuangan digital, seperti QRIS, dompet digital, digital banking, fintech lending, wealthtech, dan pembayaran digital. Namun ini biasanya dibaca agak berbeda, karena kalau seluruh nilai pembayaran digital langsung dijumlahkan ke GMV, bisa terjadi double counting. Misalnya transaksi e-commerce yang dibayar lewat QRIS bisa terhitung sebagai transaksi e-commerce sekaligus transaksi pembayaran digital. Laporan e-Conomy SEA menyebut pembayaran digital Indonesia diproyeksikan mencapai US$538 miliar dalam Gross Transaction Value/GTV pada 2025, jadi skalanya sangat besar, tetapi sifatnya lebih sebagai “rel pembayaran” bagi ekonomi digital.
Dari sisi Bank Indonesia, pertumbuhan ini juga terlihat dari transaksi pembayaran digital. Pada Triwulan III 2025, volume transaksi pembayaran digital mencapai 12,99 miliar transaksi, tumbuh 38,08% yoy. QRIS sampai Semester I 2025 juga sudah menjangkau 57 juta pengguna dan 39,3 juta merchant, dengan nilai transaksi Rp579 triliun.
Ada juga angka versi Renstra Komdigi, yaitu “kontribusi Komdigi pada nilai ekonomi digital”. Ini berbeda dari angka GMV nasional. Dalam Renstra Komdigi 2025–2029, target kontribusi Komdigi pada nilai ekonomi digital ditetapkan sekitar Rp137,89 triliun pada 2025, naik menjadi Rp155,57 triliun pada 2026, lalu bertahap sampai Rp206,16 triliun pada 2029. Di dokumen yang sama, kontribusi sektor informasi dan komunikasi terhadap PDB ditargetkan sekitar 4,3%–4,4%.
Jadi ringkasnya, angka pertumbuhan ekonomi digital Indonesia berangkat dari:
nilai transaksi platform digital, terutama e-commerce, transport/food, online travel, dan media digital;
nilai transaksi keuangan digital, seperti QRIS, dompet digital, digital banking, dan fintech;
indikator makro, seperti kontribusi sektor informasi dan komunikasi terhadap PDB;
indikator ekosistem, seperti penetrasi internet, broadband, startup, gim, cloud, data center, AI, talenta digital, dan UMKM yang masuk platform digital.
Catatan penting: angka besar belum tentu seluruh nilainya tinggal di Indonesia. Renstra Komdigi sendiri mencatat bahwa aktivitas transaksi ekonomi digital Indonesia masih banyak dikuasai pemain asing, dan local player belum tumbuh sekuat potensi pasarnya. Itu sebabnya Komdigi sekarang menekankan agar nilai ekonomi digital “berputar di dalam negeri”, bukan hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar besar.
Tertarik untuk masuk sebagai investor di sektor AI di Indonesia ?





























