Sabtu, 27 Februari 2021

Sepedaan keliling Medan lagi..

Semoga bisa meningkatkan kesehatan kita semua sehingga lebih produktif.
Mengingatkan pentingnya penerapan protokol pencegahan penularan covid.
 
Cek dulu masker semuanya...
Bismillah, siap-siap berangkat

tetap pakai masker, walau jadi tidak dikenali

ini bukan saya ya


Dapat 15km dalam 1 jam 4 menit. Alhamdulillah..

Jumat, 26 Februari 2021

Digitalisasi SPBU

 

Berbincang dengan pemilik spbu dan teknisi digitalisasi spbu.




Berbincang dengan petugas SPBU tentang penggunaan dan pemanfaatan digitalisasi SPBU



Untuk menjaga layanan digital SPBU tetap berlangsung, teknisi harus memahami betul risiko perangkat yang ditempatkan di area SPBU ini.

Berbincang dengan pemilik SPBU, sekarang lebih mudah memantau ketersediaan BBM dan datanya lebih dipercaya oleh PERTAMINA.
 
Digitalisasi SPBU merupakan projek yang agak berbeda, ketika hitungan pembayaran projek diperoleh dari penggunaan perangkat digital-nya.  Di satu sisi, perusahaan juga telah mendorong Pertamina untuk mengenali perkembangan digital, kapabilitas dan fitur-fitur kuncinya, serta aplikasinya dalam berbagai situasi bisnis yang dihadapinya, seperti mengenali SPBU yang akan kehabisan stok BBM, mendata secara akurat volume BBM yang dikirim telah sampai ke SPBU yang dituju, menghubungkan pembelian BBM dengan kategori pembeli (misalnya berhak atas BBM bersubsidi atau tidak), membuat statistik kebutuhan dan penggunaan BBM dengan lebih akurat dan lebih cepat. 

GenY - Telkom Runners Sumatera - Medan










Mereka adalah penerus bagi jalannya perusahaan ini. Cara komunikasi dan pemilihan aktivitas para generasi muda ini memang beda.  Namun, di event tertentu kita bisa bergabung dan membangun komunikasi bersama. Salah satunya dalam event running. Salah satu tujuan mengembangkan lingkungan semacam ini adalah untuk mendorong terciptanya kolaborasi dan kerjasama tim. Sangat berbeda ketika kita sudah mengenali mereka sebelum memberikan tugas dibandingkan dengan kita belum mengenali mereka. Kita jadi lebih kenal secara personil, sehingga akan bisa menempatkan dan mengembangkan mereka dari generasi yang berbeda untuk meningkatkan proses dan hasil kerjanya.

Rabu, 24 Februari 2021

Aset dan Alat Produksi. Lhoksumawe, Semangat pagiii...

 








Jangan lupa, temuan-temuan yang merupakan kelemahan di lapangan dikomunikasikan dengan sdm sehingga dapat ditindaklanjuti dan tidak berulang terjadi.

Rabu, 17 Februari 2021

Digital Airport Hotel

Dulu sudah tahu kalau ada hotel kapsul ini di bandara terminal 3 Cengkareng, Jakarta, tetapi tidak menaruh perhatian.  Datang saatnya mencoba digital airport hotel. Karena mesti terbang dari Surabaya ke Jakarta berangkat jam 19.00 dan menginap di digital airport hotel untuk lanjut penerbangan dari Jakarta ke Medan jam 05.00.

Setibanya di ujung Area Keberangkatan setelah pemeriksaan, saya mendapat petunjuk dari petugas kebersihan bandara—ternyata Digital Airport Hotel hanya satu tingkat di atas, dekat sekali. Karena sudah memesan sebelumnya secara online, proses check-in berjalan cepat. Resepsionis dengan sabar menunjukkan lokasi kapsul saya, tata cara membuka kamar, penggunaan loker, fasilitas mandi bersama, serta hal-hal kecil lain yang ternyata membuat pengalaman itu terasa nyaman. 

Ada 120 kamar, malam ini mendapat kamar yang sepi, dengan ukuran 1x2m, membaringkan badan dan rasanya nyaman. Mula-mula khawatir akan terbentur bagian atas tempat tidur, ternyata tidak. 







Tetap nyaman di hotel digital... 
rasanya bersih, namun tetap semprot-semprot pakai hand sanitizer. 
Istilah digital pada hotel ini bukan sekadar label. Hotel berbasis kapsul ini menunjukkan sebuah pendekatan baru: bagaimana sebuah ruang istirahat dirancang untuk efisiensi, kenyamanan, dan pengalaman pengguna di pusat transportasi modern. Ukuran kamar yang sederhana—sekitar 1×2 meter—bertindak sebagai ruang singgah yang memadai, bersih, dan fungsional bagi seseorang yang hanya punya jeda waktu singkat sebelum melanjutkan perjalanan. Rasanya sepi dan tenang ketika lampu dibuat remang sebagai pengantar tidur, tetapi justru di situlah saya merasakan sentuhan praktikalitas dari desain hotel ini.
Digital airport hotel telah berfikir dan melakukan hal yang tidak biasa (out of the box), membuat kamar hotel dalam kotak-kotak ukuran 1x2 meter tersusun bertingkat, yang membuat pelanggannya mendapat layanan sesuai kebutuhan dengan budget yang minim.

Pengalaman ini membuka perspektif saya bahwa smart airport bukan hanya soal konektivitas digital atau sistem aplikasi canggih. Smart airport juga berarti menghadirkan layanan yang secara langsung menjawab kebutuhan manusia yang sedang dalam perjalanan—entah itu tempat tidur sementara yang layak, akses internet, atau ruang yang memberi rasa aman dan nyaman sebelum melanjutkan langkah berikutnya. 

Dengan pendekatan semacam ini, bandara dapat menjadi lebih dari sekadar titik transit. Ia berubah menjadi ruang pengalaman yang manusiawi, efisien, dan relevan bagi pengguna layanan, di mana teknologi dan desain digabungkan untuk memberi arti lebih dalam setiap perjalanan. Dan di balik itu, ada pesan yang lebih luas tentang bagaimana smart city harus mampu memadukan teknologi dengan kebutuhan nyata masyarakatnya—bahwa layanan digital terbaik adalah yang terasa dalam langkah kecil yang kita jalani sehari-hari.

Sabtu, 13 Februari 2021

MERCI BARN, Semangat pagiii...

Pagi itu, di Jalan Pahlawan Deli Tua, saya sadar hal sederhana yang sering luput dari perhatian kita: bahwa perjalanan membangun sebuah ide besar sering bermula dari semangat pagi yang paling sederhanaSmart city bukan sekadar teknologi yang dipasang di kota—sensor di jalan, aplikasi di ponsel, atau dashboard yang memantau lalu lintas. Konsep ini jauh lebih luas: bagaimana teknologi itu hadir untuk kehidupan manusia yang sehari-hari, memudahkan langkah mereka, dan memberi makna baru pada rutinitas yang sering dianggap biasa saja

Hari itu saya menuliskan kata MERCI BARN — semacam ungkapan kecil penuh rasa terima kasih pada kekuatan pagi. Bukan sekadar ucapan, tetapi cerminan kesadaran bahwa setiap hari baru adalah peluang untuk memberi manfaat lebih luas. Dalam konteks smart city, peluang itu muncul bukan hanya dalam bentuk sistem digital, tetapi dalam cara kita menyapa dunia; cara kita menata ruang hidup; cara kita melayani sesama; dan bahkan dalam cara kita memaknai komunitas di sekitar kita.










Selasa, 02 Februari 2021

Aceh ... Semangat pagiii.. 🙏

Aceh punya suasana yang sulit dilupakan. Saat saya berdiri di pelataran Masjid Raya Baiturrahman, cahaya pagi menyentuh kubah putihnya, dan detik-detik itu rasanya seperti berada di nuansa damai Masjid Nabawi di Madinah—sunyi, penuh harapan, dan memberi kedalaman batin yang tenang.







Aceh bukan sekadar nama di peta. Bagi saya, ia adalah simpul cerita pengalaman, budaya, spiritual, dan juga teknologi yang meresap ke kehidupan masyarakatnya. Ketika saya melihat imam dan muazin yang sudah menyiapkan pengganti mereka bila suatu saat berhalangan tugas, saya teringat pada prinsip redundansi dan kesiapsiagaan dalam infrastruktur digital: bahwa sistem yang kuat selalu punya rencana cadangan, agar layanan tetap berjalan tanpa gangguan. Dan ternyata, prinsip sederhana di masjid ini mengingatkan saya pada hal-hal teknis yang sering kita pikirkan, seperti dual route, dual homing, maupun redundansi lainnya di jaringan digital.

Di balik keheningan pagi itu, saya melihat wajah tim Aceh yang sedang berkumpul—foto bersama depan Masjid Raya menjadi saksi bahwa perjalanan kami ke Aceh bukan sekadar perjalanan dinas. Ia adalah mata hati yang melihat bahwa teknologi dan kehidupan masyarakat sejatinya berjalan bersamaan, ketika kita mau mendengarkan ritme lokal dan menjadikannya bagian dari narasi pembangunan smart city.


Aceh sendiri telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam transformasi digitalnya. Sebagai salah satu pilot project smart city di Indonesia, Banda Aceh misalnya terus memperkuat basis teknologi dan layanan digital melalui command center, sebuah pusat kendali informasi yang membantu percepatan pelayanan publik berbasis data dan teknologi informasi.






Namun smart city bukan hanya soal perangkat teknologi. Ia adalah tentang cara berpikir masyarakat dan pemimpinnya—bagaimana kita memanfaatkan teknologi bukan hanya untuk efisiensi, tetapi untuk memanusiakan kehidupan. Kursi imam yang disiapkan, muazin yang memiliki cadangan tugas, rumah ibadah yang menjadi ruang refleksi pagi para jamaah—semuanya memberi pelajaran bahwa ketertiban, kesiapsiagaan, dan kesadaran kolektif adalah fondasi kuat sebuah komunitas yang siap memasukkan teknologi ke dalam kehidupan tanpa kehilangan jati dirinya.

Aceh… semangat pagiii adalah reflektif,  bahwa setiap hari adalah kesempatan baru untuk menjahit teknologi dengan kehidupan—menuju kota pintar yang memanusiakan umat, mempermudah layanan, dan merangkul masa depan dengan hati yang tenang dan pikiran yang terbuka.