Internet saya yakini akan membantu banyak orang untuk lebih maju, sejahtera, berbahagia, serta lebih banyak berbakti kepada keluarga, bangsa, negara dan agamanya. Setiap orang berhak mendapat akses internet mencukupi, yang jika dimanfaatkan bersama-sama akan membentuk smartcity. Blog ini adalah kumpulan catatan sinung wibowo tentang membangun smart city. Bukan hanya teori, juga catatan sehari-hari yang seperti titik-titik membentuk garis smartcity, walau garis itu kadang tebal-kadang tipis :).
Rabu, 17 Februari 2021
Digital Airport Hotel
Dulu sudah tahu kalau ada hotel kapsul ini di bandara terminal 3 Cengkareng, Jakarta, tetapi tidak menaruh perhatian. Datang saatnya mencoba digital airport hotel. Karena mesti terbang dari Surabaya ke Jakarta berangkat jam 19.00 dan menginap di digital airport hotel untuk lanjut penerbangan dari Jakarta ke Medan jam 05.00.
Setibanya di ujung Area Keberangkatan setelah pemeriksaan, saya mendapat petunjuk dari petugas kebersihan bandara—ternyata Digital Airport Hotel hanya satu tingkat di atas, dekat sekali. Karena sudah memesan sebelumnya secara online, proses check-in berjalan cepat. Resepsionis dengan sabar menunjukkan lokasi kapsul saya, tata cara membuka kamar, penggunaan loker, fasilitas mandi bersama, serta hal-hal kecil lain yang ternyata membuat pengalaman itu terasa nyaman.
Ada 120 kamar, malam ini mendapat kamar yang sepi, dengan ukuran 1x2m, membaringkan badan dan rasanya nyaman. Mula-mula khawatir akan terbentur bagian atas tempat tidur, ternyata tidak.
Tetap nyaman di hotel digital...
rasanya bersih, namun tetap semprot-semprot pakai hand sanitizer.
Istilah digital pada hotel ini bukan sekadar label. Hotel berbasis kapsul ini menunjukkan sebuah pendekatan baru: bagaimana sebuah ruang istirahat dirancang untuk efisiensi, kenyamanan, dan pengalaman pengguna di pusat transportasi modern. Ukuran kamar yang sederhana—sekitar 1×2 meter—bertindak sebagai ruang singgah yang memadai, bersih, dan fungsional bagi seseorang yang hanya punya jeda waktu singkat sebelum melanjutkan perjalanan. Rasanya sepi dan tenang ketika lampu dibuat remang sebagai pengantar tidur, tetapi justru di situlah saya merasakan sentuhan praktikalitas dari desain hotel ini.
Digital airport hotel telah berfikir dan melakukan hal yang tidak biasa (out of the box), membuat kamar hotel dalam kotak-kotak ukuran 1x2 meter tersusun bertingkat, yang membuat pelanggannya mendapat layanan sesuai kebutuhan dengan budget yang minim.
Pengalaman ini membuka perspektif saya bahwa smart airport bukan hanya soal konektivitas digital atau sistem aplikasi canggih. Smart airport juga berarti menghadirkan layanan yang secara langsung menjawab kebutuhan manusia yang sedang dalam perjalanan—entah itu tempat tidur sementara yang layak, akses internet, atau ruang yang memberi rasa aman dan nyaman sebelum melanjutkan langkah berikutnya.
Dengan pendekatan semacam ini, bandara dapat menjadi lebih dari sekadar titik transit. Ia berubah menjadi ruang pengalaman yang manusiawi, efisien, dan relevan bagi pengguna layanan, di mana teknologi dan desain digabungkan untuk memberi arti lebih dalam setiap perjalanan. Dan di balik itu, ada pesan yang lebih luas tentang bagaimana smart city harus mampu memadukan teknologi dengan kebutuhan nyata masyarakatnya—bahwa layanan digital terbaik adalah yang terasa dalam langkah kecil yang kita jalani sehari-hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar