Aceh punya suasana yang sulit dilupakan. Saat saya berdiri di pelataran Masjid Raya Baiturrahman, cahaya pagi menyentuh kubah putihnya, dan detik-detik itu rasanya seperti berada di nuansa damai Masjid Nabawi di Madinah—sunyi, penuh harapan, dan memberi kedalaman batin yang tenang.
Internet saya yakini akan membantu banyak orang untuk lebih maju, sejahtera, berbahagia, serta lebih banyak berbakti kepada keluarga, bangsa, negara dan agamanya. Setiap orang berhak mendapat akses internet mencukupi, yang jika dimanfaatkan bersama-sama akan membentuk smartcity. Blog ini adalah kumpulan catatan sinung wibowo tentang membangun smart city. Bukan hanya teori, juga catatan sehari-hari yang seperti titik-titik membentuk garis smartcity, walau garis itu kadang tebal-kadang tipis :).
Selasa, 02 Februari 2021
Aceh ... Semangat pagiii.. 🙏
Aceh bukan sekadar nama di peta. Bagi saya, ia adalah simpul cerita pengalaman, budaya, spiritual, dan juga teknologi yang meresap ke kehidupan masyarakatnya. Ketika saya melihat imam dan muazin yang sudah menyiapkan pengganti mereka bila suatu saat berhalangan tugas, saya teringat pada prinsip redundansi dan kesiapsiagaan dalam infrastruktur digital: bahwa sistem yang kuat selalu punya rencana cadangan, agar layanan tetap berjalan tanpa gangguan. Dan ternyata, prinsip sederhana di masjid ini mengingatkan saya pada hal-hal teknis yang sering kita pikirkan, seperti dual route, dual homing, maupun redundansi lainnya di jaringan digital.
Di balik keheningan pagi itu, saya melihat wajah tim Aceh yang sedang berkumpul—foto bersama depan Masjid Raya menjadi saksi bahwa perjalanan kami ke Aceh bukan sekadar perjalanan dinas. Ia adalah mata hati yang melihat bahwa teknologi dan kehidupan masyarakat sejatinya berjalan bersamaan, ketika kita mau mendengarkan ritme lokal dan menjadikannya bagian dari narasi pembangunan smart city.
Aceh sendiri telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam transformasi digitalnya. Sebagai salah satu pilot project smart city di Indonesia, Banda Aceh misalnya terus memperkuat basis teknologi dan layanan digital melalui command center, sebuah pusat kendali informasi yang membantu percepatan pelayanan publik berbasis data dan teknologi informasi.
Namun smart city bukan hanya soal perangkat teknologi. Ia adalah tentang cara berpikir masyarakat dan pemimpinnya—bagaimana kita memanfaatkan teknologi bukan hanya untuk efisiensi, tetapi untuk memanusiakan kehidupan. Kursi imam yang disiapkan, muazin yang memiliki cadangan tugas, rumah ibadah yang menjadi ruang refleksi pagi para jamaah—semuanya memberi pelajaran bahwa ketertiban, kesiapsiagaan, dan kesadaran kolektif adalah fondasi kuat sebuah komunitas yang siap memasukkan teknologi ke dalam kehidupan tanpa kehilangan jati dirinya.
Aceh… semangat pagiii adalah reflektif, bahwa setiap hari adalah kesempatan baru untuk menjahit teknologi dengan kehidupan—menuju kota pintar yang memanusiakan umat, mempermudah layanan, dan merangkul masa depan dengan hati yang tenang dan pikiran yang terbuka.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar