Sabtu pagi itu, ketika udara masih sejuk dan jalanan belum ramai, saya menapaki rute sepanjang 32 km dengan waktu 2 jam 18 menit. Jarak yang bagi sebagian orang mungkin tidak terlalu jauh, tetapi bagi saya—lebih dari sekadar angka. Itulah prestasi kecil yang menandai semangat pagi yang hidup dalam keseharian kita.
Berada di atas sepeda, mengayuh setiap putaran pedal, memberi saya lebih dari sekadar olahraga. Ia memberi ruang untuk merenungkan hubungan antara kehidupan, kesehatan, dan kota yang baik. Dalam banyak diskusi tentang smart city, kita sering membicarakan teknologi—sensor, aplikasi, data, sistem terintegrasi—namun di balik semua itu ada aspek yang sering terlupa: bagaimana kota mendukung hidup sehat dan ritme manusiawi sehari-hari.

Foto-foto pagi itu bukan sekadar dokumentasi jarak dan waktu. Ia menjadi jejak semangat pagi yang diam-diam mengajarkan banyak hal: bahwa sebuah kota yang cerdas bukan hanya soal teknologi, tetapi tentang bagaimana ia menyediakan ruang yang mendukung aktivitas fisik, keseimbangan hidup, dan pengalaman ruang publik yang menyenangkan.
Melalui rute sepanjang sawah yang luas itu, saya menyadari bahwa semangat pagi adalah ritme awal dari perubahan kecil yang berkelanjutan. Bukan sekadar prestasi angka di aplikasi, tetapi perjalanan reflektif yang memadukan tubuh, pikiran, dan kota sebagai ruang hidup bersama.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar