Internet saya yakini akan membantu banyak orang untuk lebih maju, sejahtera, berbahagia, serta lebih banyak berbakti kepada keluarga, bangsa, negara dan agamanya. Setiap orang berhak mendapat akses internet mencukupi, yang jika dimanfaatkan bersama-sama akan membentuk smartcity. Blog ini adalah kumpulan catatan sinung wibowo tentang membangun smart city. Bukan hanya teori, juga catatan sehari-hari yang seperti titik-titik membentuk garis smartcity, walau garis itu kadang tebal-kadang tipis :).
Selasa, 13 Mei 2025
Electric Vehicle
Sabtu, 26 April 2025
Bangkok semangat pagii....
Di balik wajah kota yang memesona itu, ada hal menarik : bagaimana Bangkok mengelola infrastruktur dasarnya, termasuk listrik dan telekomunikasi. Di kota ini, penggunaan tiang bersama (shared poles) antara listrik dan telekomunikasi adalah praktik yang lazim.
Pengaturannya tidak berjalan tanpa aturan. Pemasangan tiang bersama berada di bawah regulasi Provincial Electricity Authority (PEA) dan Bangkok Metropolitan Administration (BMA). Standar teknisnya jelas, terutama terkait keselamatan—mulai dari jarak aman antara kabel listrik dan telekomunikasi hingga mitigasi risiko interferensi dan sengatan listrik.
Tujuannya sederhana tapi strategis. Menghemat ruang di kota yang jalan-jalannya sering sempit, sekaligus menekan biaya infrastruktur melalui berbagi aset. Perusahaan telekomunikasi seperti True, AIS, atau TOT tidak harus membangun tiang sendiri; mereka berbagi dengan otoritas listrik setempat. Efisien, setidaknya di atas kertas.
Namun, praktik ini bukan tanpa tantangan. Di beberapa kawasan, tiang-tiang tampak penuh sesak oleh kabel yang bertumpuk—fenomena yang kerap disebut spaghetti wiring. Kepadatan ini bukan hanya persoalan visual, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan teknis dan keselamatan. Di sinilah koordinasi antarpengelola menjadi krusial, terutama saat pemeliharaan atau peningkatan jaringan.
Pemerintah Bangkok menyadari persoalan itu. Beberapa tahun terakhir, kota ini menjalankan proyek “Underground Cable”, memindahkan kabel listrik dan telekomunikasi ke bawah tanah, terutama di jalan-jalan utama dan kawasan bisnis. Belum merata ke seluruh kota, memang. Tapi arah kebijakannya jelas: kota yang lebih rapi, lebih aman, dan lebih manusiawi.
Menariknya, praktik tiang bersama masih mudah ditemui di jalan-jalan kecil (soi) di kawasan seperti Sukhumvit, Silom, atau Chatuchak. Sementara di kawasan yang lebih modern—Sathorn atau Ratchadaphisek—kabel-kabel sudah banyak yang “menghilang” ke bawah tanah. Ada diferensiasi kebijakan berbasis fungsi kawasan, bukan pendekatan seragam.
Dari sisi teknis, Bangkok relatif konsisten menggunakan tiang beton bertulang atau pratekan, mengacu pada Thailand Industrial Standards (TIS) serta spesifikasi internal PEA dan BMA. Tiang gabungan umumnya setinggi 9–12 meter, mampu menahan beban hingga 1.000 kg, dengan pengaturan kabel yang tegas: listrik di bagian atas, telekomunikasi di bawahnya. Umur pakainya panjang—30 hingga 50 tahun—dan minim perawatan, cocok untuk iklim tropis seperti Bangkok.
Semua ini membuat saya berpikir: penataan kota bukan hanya soal estetika, tetapi soal rangkaian keputusan-keputusan yang konsisten, dari standar teknis, koordinasi lembaga, hingga keberanian menata ulang yang sudah terlanjur semrawut.
Bangkok memberi satu pelajaran penting—bahwa berbenah itu bukan tentang sempurna atau tidak, melainkan tentang arah yang jelas dan keberanian memulai.
Jumat, 21 Februari 2025
Kupang - Muemere - Kaledera - Ende - Labuhanbajo


Jumat, 14 Februari 2025
Sabtu, 11 Januari 2025
Menanam 1212 Pohon
Pada Sabtu, 11 Januari 2025, bersama rekan-rekan, kami menanam 1.212 pohon mangrove. Setiap pohon mewakili satu niat baik: merawat bumi, menjaga pesisir, dan meninggalkan jejak yang lebih bermakna daripada sekadar laporan kegiatan. Di titik inilah perayaan ulang tahun terasa lebih sunyi, namun justru lebih dalam maknanya.
Menanam mangrove bukan sekadar aktivitas simbolik. Mangrove adalah benteng alami—menahan abrasi, menyerap karbon, menjaga ekosistem pesisir tetap hidup. Ia bekerja diam-diam, seperti banyak kerja infrastruktur yang sering tak terlihat, tetapi dampaknya dirasakan dalam jangka panjang. Barangkali di situlah relevansinya dengan usia Telkom Akses: membangun fondasi, bukan sekadar tampilan.
Bagi saya, 1212 pohon ini bukan soal jumlah. Ia adalah cara lain untuk mengatakan bahwa pertumbuhan perusahaan seharusnya sejalan dengan kepedulian terhadap lingkungan dan masa depan. Bahwa ulang tahun bukan hanya tentang menengok ke belakang, tetapi juga tentang bertanya: kontribusi apa yang ingin kita tinggalkan ke depan?
Di tengah isu perubahan iklim dan kerentanan wilayah pesisir, langkah kecil seperti ini mungkin terasa tidak heroik. Namun justru dari langkah-langkah sederhana dan konsistenlah perubahan besar biasanya berawal. Pohon yang ditanam hari ini tidak langsung memberi hasil, tetapi ia akan bekerja untuk generasi yang bahkan belum kita kenal.
Akhirnya, angka 12.12 ini menjadi pengingat yang personal bagi saya. Tentang usia, tentang perjalanan, dan tentang tanggung jawab. Bahwa merayakan ulang tahun—baik individu maupun organisasi—akan selalu lebih bermakna ketika dirayakan dengan memberi kehidupan, bukan sekadar merayakan pencapaian.



















