Jumat, 21 Februari 2025

Kupang - Muemere - Kaledera - Ende - Labuhanbajo

Selamat ultah pak Herlan. @ Kupang, 19 Feb 2025.
"Pati Ka Dua Bapu Ata Mata" adalah ungkapan dalam bahasa Ende-Lio, suku yang mendiami wilayah Ende, Flores.  "Pati" = Mati, "Ka Dua" = Tidak ada dua (tidak bisa diulangi), "Bapu" = Bapak, "Ata Mata" = Orang yang sudah meninggal, Jadi, secara harfiah, "Pati Ka Dua Bapu Ata Mata" berarti "Kematian itu tidak ada duanya, orang yang sudah mati tidak akan hidup kembali."
Makna Filosofis: Ungkapan ini sering digunakan sebagai nasihat kehidupan, yang mengingatkan bahwa hidup hanya sekali, dan seseorang harus menjalani hidup dengan baik karena kematian tidak bisa diulang atau diperbaiki.
Ungkapan ini juga mencerminkan kearifan lokal masyarakat Ende-Lio, yang sangat menghormati leluhur dan memiliki filosofi kuat tentang kehidupan dan kematian.










 Melihat keindahan kehendakNYA. Kaldera vulkanik yang terletak di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia, ini terbentuk akibat aktivitas vulkanik besar yang menyebabkan runtuhnya bagian puncak gunung berapi. Terlihat lapisan-lapisan tanah yang seperti kue legit ..
Kaldera ini sekarang berupa tiga danau yang bisa terlihat dari puncak, yang sering berubah warna akibat kandungan mineral, gas vulkanik, dan kondisi kimia di dalamnya. Warna yang sering muncul adalah:
Tiwu Ata Polo (merah/coklat tua/hitam) menurut warga dipercaya sebagai tempat arwah orang jahat, Tiwu Ko'o Fai Nuwa Muri (biru/toska) sebagai tempat arwah anak muda yang meninggal, Tiwu Ata Mbupu (hijau/putih) sebagai tempat arwah orang tua yang telah meninggal.


dilarang tidur di bawah kolong truk ya..

pantai ende


Ende, mungkin ini salah satu kota kenangan Bung Karno. Ini adalah rumah tempat Ir. Soekarno diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1934–1938.  Menurut teman-teman Ende, ada pohon Sukun di Taman Renungan Bung Karno, tempat yang konon menjadi inspirasi awal bagi konsep Pancasila. Tapi karena tidak bisa masuk taman, tidak sempat foto di bawahnya. Pohon sukun-nya bercabang lima, memang yang di sini sudah diganti dengan pohon sukun yang baru, namun masih tetap memberi kesan tersendiri.




menengok labuhanbajo, jangan lupa es krim dan sayur daun kelor di la moringa

Jumat, 14 Februari 2025

Sabtu, 11 Januari 2025

Menanam 1212 Pohon

Dalam rangkaian ultah Telkom Akses, kami menanam 1212 pohon mangrove di area Bekasi 

Angka kadang berbicara lebih dalam daripada sekadar hitungan. 1212 bukan angka acak. Ia lahir dari 12 dan 12—tanggal yang menandai hari ulang tahun Telkom Akses. Sebuah penanda perjalanan, yang kali ini tidak dirayakan dengan seremoni besar, tetapi dengan menanam harapan yang tumbuh perlahan. Memang ini tidak dilaksanakan pas pada tanggal 12 bulan 12, karena hari-hari itu beban tutup buku cukup menyita waktu teman-teman.

Pada Sabtu, 11 Januari 2025, bersama rekan-rekan, kami menanam 1.212 pohon mangrove. Setiap pohon mewakili satu niat baik: merawat bumi, menjaga pesisir, dan meninggalkan jejak yang lebih bermakna daripada sekadar laporan kegiatan. Di titik inilah perayaan ulang tahun terasa lebih sunyi, namun justru lebih dalam maknanya.

Menanam mangrove bukan sekadar aktivitas simbolik. Mangrove adalah benteng alami—menahan abrasi, menyerap karbon, menjaga ekosistem pesisir tetap hidup. Ia bekerja diam-diam, seperti banyak kerja infrastruktur yang sering tak terlihat, tetapi dampaknya dirasakan dalam jangka panjang. Barangkali di situlah relevansinya dengan usia Telkom Akses: membangun fondasi, bukan sekadar tampilan.

Bagi saya, 1212 pohon ini bukan soal jumlah. Ia adalah cara lain untuk mengatakan bahwa pertumbuhan perusahaan seharusnya sejalan dengan kepedulian terhadap lingkungan dan masa depan. Bahwa ulang tahun bukan hanya tentang menengok ke belakang, tetapi juga tentang bertanya: kontribusi apa yang ingin kita tinggalkan ke depan?

Di tengah isu perubahan iklim dan kerentanan wilayah pesisir, langkah kecil seperti ini mungkin terasa tidak heroik. Namun justru dari langkah-langkah sederhana dan konsistenlah perubahan besar biasanya berawal. Pohon yang ditanam hari ini tidak langsung memberi hasil, tetapi ia akan bekerja untuk generasi yang bahkan belum kita kenal.

Akhirnya, angka 12.12 ini menjadi pengingat yang personal bagi saya. Tentang usia, tentang perjalanan, dan tentang tanggung jawab. Bahwa merayakan ulang tahun—baik individu maupun organisasi—akan selalu lebih bermakna ketika dirayakan dengan memberi kehidupan, bukan sekadar merayakan pencapaian.

Senin, 11 November 2024

Parepare ... Semangat pagiii

 


Parepare adalah titik awal sebuah kisah besar. Di kota inilah cinta Ainun dan Habibie bersemi—sebuah kisah personal yang kelak menjelma menjadi kisah nasional, bahkan internasional. Dari cinta yang sederhana itu, lahir ketekunan, kesetiaan, dan keberanian bermimpi jauh melampaui batas geografi. Seorang putra Indonesia tumbuh, belajar, dan akhirnya dikenal dunia—tanpa pernah benar-benar meninggalkan akarnya. Tidak ada kemewahan berlebihan, tetapi ada martabat dan rasa percaya diri—bahwa kota kecil pun bisa melahirkan cerita besar.

 

Parepare mengajarkan bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari beton dan baja. Ia bisa berangkat dari nilai, dari keteladanan, dari cerita yang diwariskan lintas generasi. Kisah Ainun–Habibie bukan sekadar romantika masa lalu; ia adalah modal sosial yang membentuk identitas kota ini—tentang kecintaan pada ilmu, kesetiaan pada proses, dan keberanian untuk tampil di panggung dunia tanpa kehilangan jati diri.

Sebagai kota tumbuh, Parepare sedang menapaki jalannya sendiri. Infrastruktur bergerak, ekonomi lokal berdenyut, dan ruang kota ditata perlahan. Namun yang paling penting, semangat warganya tetap terjaga. Seperti pagi hari yang tidak pernah absen, Parepare tumbuh dengan kesabaran dan konsistensi.